Januari 11th, 2010 / No Comments » / by leli
Originally Posted : abu_ahmad syafiq
Written by Adilah
Jumat, 19 Maret 2004
Bersegera menikah dan melahirkan banyak anak jelas-jelas merupakan sunnah Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam. Perlu dicatat, bahwa mengasah kemampuan kita agar setara dengan tanggung jawab tersebut juga tak kalah penting. Karena itu persiapkanlah segala sesuatu yang mesti disiapkan demi menjalankan sunnah ini.
Berikut ini diantara tuntunan syar’i dalam pendidikan anak yang dibawakan oleh seorang ‘alim Syaikh Abu ishaq Al-Huwainy :
1. Anak kecil adalah manusia kecil yang selalu membutuhkan kelembutan, cinta yang dalam dan kasih sayang yang murni.
Bermain dan bercanda dengan mereka merupakan bentuk kasih sayang dan menunjukkan kepahaman seseorang terhadap dien ini. Dalam sebuah hadits shahih riwayat Bukhari:
“Bahwa Nabi Shallahu’alaihi wasallam mencium Hasan bin Ali, dan disamping beliau ada Aqro’ bin Habis at-Tamimy, maka berkatalah Aqro’: Sesungguhnya aku punya 10 orang anak tetapi tidak seorangpun yang pernah kucium. Lalu Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam melihat kepadanya seraya berkata : Barangsiapa yang tidak mau menyayangi maka ia tidak akan disayangi”.
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu’anha, ia berkata:
“Telah datang seorang badui kepada Nabi Shallahu’alaihi wasallam dan ia berkata: kalian menciumi anak-anak kecil, tapi kami tidak pernah menciumi meraka. Berkatalah Nabi Shallahu’alaihi wasallam: Aku tak kuasa (memberi kasih saying di hati kalian) jika Allah telah mencabut kasih saying itu dari hati kalian.
2. Mengajarkan adab yang baik.
Mencandai anak kecil tidak berarti meniadakan pendidikan dan pengajaran kebaikan kepada mereka. Maka tidak ada kebaikan yang diberikan orang tua kepada anaknya yang lebih baik selain adab yang baik. Kebaikan yang pertama kali yang harus dipelajari adalah tentang pelaksanaan sholat wajib.
Berdasarkan sabda Nabi Shallahu’alaihi wasallam :
“Perintahkanlah anak-anakmu shalat ketika mereka berumur 7 tahun, dan pukullah mereka jika berumur 10 tahun. Dan pisahkanlah mereka di tempat tidur” ( Hadits shahih dikeluarkan Abu Daud, Tirmidzi, Ad-Darimi, Ahmad, Ibnu Abu Syaibah, Ibnu Khuzaimah, Thahawy)
3. Hendaklah ditanamkan pada jiwa anak untuk cinta Allah dan Rasul-Nya dan hendaklah pula ditanamkan sifat dan sikap untuk mengutamakan Allah dan Rasul-Nya daripada yang selainNya.
Berdasarkan sabda Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam:
“Tidak sempurna iman seseorang diantara kalian hingga aku lebih dicintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia”.
(Hadits Shahih dikeluarkan Bukhari, Muslim, Abu’Awanah, Nasa’i, Ibnu Majah)
4. Hendaknya anak diajari Al-Qur’an dengan logat-logat Arab. Menjadikan anak hafal Al-Qur’an serta mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka.
Terdapat keutamaan yang banyak dan tak terhitung.
Berdasarkan sabda Nabi Shallahu’alaihi wasallam:
“ Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya”.
(Hadits Shahih dikeluarkan Bukhari, Abu Daud, Nasa’i)
Dan dalam sabda Beliau yang lain:
“Barangsiapa membaca 1 huruf dari kitabullah maka ia mendapatkan satu kebaikan. Dan satu kebaikan itu akan dilipatkan menjadi 10 kali lipat. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf”.
(Hadits Shahih dikeluarkan tirmidzi, Darimi, Abu Nu’aim dll)
5. Hendaknya anak dijadikan cinta kepada sunnah.
Dan hendaknya sunnah tersebut dihiaskan pada diri anak sehingga sunnah tersebut meresap ke dalam hatinya.
Berdasarkan sabda Rasulullah Shallahu’alaihi wasallam:
“Barangsiapa yang diberi umur panjang diantara kalian, maka ia akan melihat perpecahan yang banyak. Maka hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan Khulafa’ur rasyidun yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi gerahammu”.
(Hadits Shahih dikeluarkan Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad-Darimi,Ahmad, Ibnu Hibban)
6. Hendaklah anak dibuat tidak suka terhadap bid’ah dan segala perkara yang mengantarkan kepada bid’ah.
Tidak akan berkumpul sunnah dan bid’ah di hati seorang mukmin selamanya!
Dan tidak ada yang dinamakan bid’ah hasanah (bid’ah yang baik).
Sabda Nabi Shallahu’alaihi wasallam dalam sebuah hadits shahih yang merupakan potongan dari khutbatul hajah yang masyhur:
“Setiap perkara baru dalam agama adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan di neraka”.
7. Hendaklah anak dijadikan cinta kepada ilmu dan ahlinya.
Juga diajarkan kepada anak tentang sabar ketika sedang mencarinya terlebih ilmu-ilmu syar’i. Karena sesungguhnya itu merupakan ilmu yang mulia.
Berdasarkan hadits Zirr bin Hubaisy, ia berkata:
“Aku mendatangi Shofwan bin ‘Assal al-Murady, maka ia berkata: Apa yang mendorongmu dating kemari? Aku menjawab: Karena untuk mencari ilmu. Ia berkata: Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayapnya kepada pencari ilmu syar’i karena ridha atas apa yang sedang ia cari”.
8. Berlaku adil kepada setiap anak.
Hal ini merupakan kewajiban bagi orang tua. Sedangkan membeda-bedakan sesama mereka merupakan keberanian melawan batas-batas (hukum-hukum) Allah dan pelanggaran kehormatan dienNya.
Bersabda Nabi Shallahu’alaihi wasallam:
“Berlaku adillah diantara anak-anakmu. Berlaku adillah terhadap anak-anakmu. Berlaku adillah terhadap anak-anakmu”.
Itulah diantara kiat-kiat syar’i yang harus diperhatikan pendidik untuk mencetak anak yang shalih. Generasi terakhir ummat ini tidak mungkin menjadi baik kecuali dengan apa yang telah menjadikan baik generasi awalnya. Wallahua’lam bishowab.
Sumber: majalah As-Sunnah Edisi 08/ThIV/1421-2000,ditulis ulang oleh Ummu Wafa
jilbab.or.id
Posted in: Blogging
Tags: 3. Pasca Nikah, c. Anak-anak, e. Rumah Tangga
Januari 11th, 2010 / No Comments » / by leli
Sumber : myquran.com
Tret ini akan membahas tentang perbedaan antara suami (laki2) dan isteri (wanita) dari sisi psikologis. Perbedaan fisik keduanya tidak dibahas disini.Ane sarikan dari terjemahan buku Saikulujiyyah ar-Rujul wa al-Mar’iah, karya Dr. Thariq Kamal an-Nu’aimi.
1. Perbedaan Menanggapi Permasalahan
Laki2 menganggap dirinya diciptakan untuk memecahkan masalah. Perilaku ini dianggap sebagai sebuah pengungkapan cintanya kepada perempuan. Wanita menganggap bahwa dia tidak memerlukan pemecahan, yang diinginkan adalah suaminya ikut merasakan dan ikut berempati.
Contoh: seorang istri yang masuk rumah sakit untuk menjalani operasi. Setelah operasi berhasil dan keluar dari RS ada tanda kegelisahan dari istri disebabkan karena bekas yang kelihatan buruk akibat operasi. Istri curhat pada suaminya dan dijawab:
“Masalah sepele, ga usah pedulikan. Kan bisa operasi kecantikan, kamu bisa bebas dari noda itu. Masalah ini kecil dan penanganannya juga mudah.”
Jawaban ini menambah sedih istrinya dan membuatnya marah, karena ia merasa suaminya tidak memahami hakikat perasaan sedihnya bahkan meminta untuk operasi kembali.
Seharusnya yg perlu dilakukan suami adalah berempati pada istrinya. Ini akan membuat istri senang dan membuat istri merasa dekat dengan suami. Memberikan nasehat dan pemecahan justru akan menjadikan istri marah, merasa jauh darinya dan tidak mau duduk dengannya.
2. Perbedaan Perhatian Suami dan Istri
Perempuan sangat perhatian pada cinta, ngobrol2, kecantikan dan hubungan kemasyarakatan. PR jika bertemu dengan teman sesamanya, maka akan menggunakan kesempatan tersebut utk menguatkan hubungan, berusaha saling bantu satu sama lain walaupun tanpa ada permintaan. Tujuan memberikan bantuan bagi PR adalah untuk membuat dia merasa bahwa dia dicintai.
Laki2 banyak menghabiskan waktunya untuk berjuang dalam kehidupan, berjuang untuk mewujudkan tujuan2. Dunia laki2 penuh dengan permasalahan, kesulitan dan tujuan2. Laki2 jika bertemu dengan teman laki2 yg dibicarakan adalah segala permasalahan yang dihadapi dan berusaha mencari pemecahan yang sesuai, baik permasalahan politik, keuangan, kemasyarakatan, bahkan olahraga. Dalam dunia laki2 memberikan bantuan dengan suka rela dianggap sbg suatu yg tidak dapat diterima, ditafsirkan sebagai penghinaan.
Contoh: suami istri yang yg pergi menghadiri acara walimahan temannya. Mereka sudah sampai di daerah tempat walimahan temannya hanya mereka tidak begitu mengetahui pasti alamat tersebut. Suami hanya berputar dan berkeliling2 didaerah tersebut, tidak mau menyerah dgn harapan bisa menemukan sendiri alamatnya. Beberapa saat istrinya menyarankan utk menghentikan mobil dan bertanya kepada orang lain yg tau, daripada terus menerus berputar dan berkeliling tidak ada manfaatnya. Tetapi suami tetap aja tidak mau menghentikan mobilnya hingga sampai akhirnya menemukan tempat yg dicari. Kegelisahan tampak sekali pada wajah suami saat menghadiri acara, sedikit bicara dan tingkahnya tidak bebas. Istrinya merasa bingung karena sikap dan raut muka suaminya yg tidak enak tersebut.
Apa yg dilakukan suami adalah utk memastikan kepada istrinya bahwa dia adalah org yg mampu. Mencari bantuan sama artinya dengan menggeser posisi dirinya ke posisi yg lebih rendah. Seandainya istrinya tetap diam dan tidak gelisah dan memberi kesempatan suaminya mencari sendiri alamat tersebut sampai ketemu, maka suami akan semakin cinta ke istrinya.
Ketika membicarakan dua kesalahan yang sudah biasa dilakukan. Sebenarnya inti kesalahan tidak terletak pada niat dari laki2 maupun perempuan tersebut, namun terletak pada cara dan waktu yang digunakan. Ketika jiwa pr sedang senang maka ia tidak akan menolak untuk mendengarkan laki2, yang sedang berusaha memecahkan permasalahan dgn caranya sendiri. Laki2 harus mengetahui bahwa ketika pr dalam keadaan gelisah dan tidak senang dan mengadukan permasalahannya, maka waktu itu tidak tepat untuk mengajukan suatu pemecahan/nasehat. Yang sebenarnya dikehendaki pr adalah orang lain mau mendengarkan keluhannya saja. Apabila pr sudah merasa keinginannya terpenuhi dan suami bersedia mendengarkan perkataan dan memahami perasaannya, ketika itu keadaan psikologisnya bertahap akan membaik. Setelah itu laki2 bisa masuk dalam pembicaraan dengan mengajukan beberapa usulan, bukan pemecahan.
Sementara bagi laki2, ia mau menerima nasehat dan kritikan yang membangun ketika ia memang mencarinya. Pr harus mengetahui bhw memberikan nasehat/kritikan dapat membuatnya marah dan membuat dia merasa istrinya ingin merendahkan dan menguasainya.
3. Reaksi terhadap kelelahan dan kesulitan
Laki-laki menyikapi kesukaran dan kelelahan dengan cara objektif. Sementara perempuan dengan subjektif.
Tabiat laki2 yang pokok adalah perhatian pada sesuatu yang ada diluar, sehingga ketika seorang laki2 mengalami kesukaran maka ia akan menarik diri dan mulai berfikir dengan cara diam, berusaha memecahkan masalah yang dialaminya utk terlepas dari kesukaran dan kelelahan.
Tabiat perempuan yang paling asasi adalah sangat perhatian pada sesuatu yang terjadi didalam dirinya. Ketika pr mengalami kesukaran ia akan berinteraksi dengan perasaannya utk bisa melakukan perubahan dari sisi dalam.
Menyikapi kesulitan dan kelelahan secara objektif hakikatnya adalah mengkaji, menganalisa yang telah terjadi, baru setelah itu berinteraksi dan menentukan pemecahan yang sesuai. Sedangkan subjektif adalah menyikapinya melalui perasaan, yaitu meletakkan jiwa ditengah2 permasalahan, baru setelah itu berinteraksi dengan masalah tersebut.
Laki2 yang lelah akan berusaha mencari kelegaan dengan berusaha mendapatkan tempat yang cukup tenang jauh dari kebisingan, dan secara umum berusaha menghindarkan diri untuk tenggelam pada perdebatan dalam bentuk apapun.
Pr ketika lelah akan berusaha mencari ketenangan dengan senang berbicara atau mempersiapkan semangat utk hari esok. Senang berbicara dan mencari orang yang mau mendengarkan kata-katanya, kemudian mengikutsertakan dia dalam pembicaraan tersebut.
Contoh:
Suami pulang dari kerja, ia sangat lelah dan butuh istirahat. Suami masuk rumah, salam dengan istri dan anak, dan menunggu makan. Makanan datang, dan semua duduk mengelilingi meja makan. Sebelum suami memasukkan makanan pertama kemulutnya, istrinya tiba2 berkata:
Istri: Bagaimana keadaan pekerjaanmu hari ini?
Suami: hari ini berat
Istri: Apa yang terjadi disana?
Suami: Masalah seperti biasanya
Istri: Masalah seperti apa itu?
Suami (tampak tanda2 gelisah dan berkata) : Apakah kita bisa makan terlebih dahulu, lalu setelah selesai baru bicara?
Istri (ia diam sebentar, lalu bicara): Temanmu tadi si A baru saja telpon, ia harap kamu menghubunginya.
Suami : Iya, aku akan menghubunginya nanti sore.
Istri: Apa kira2 yang ia inginkan?
Suami (ia tampak marah dan berkata melebihi suara biasanya) : Bagaimana aku bisa tahu apa yang ia inginkan? Akan kuberitahu setelah aku menghubunginya.
Istri: Bila A punya niat berkunjung hari jumat datang, ingat kita punya janji dengan anak2 ke kebun binatang.
Suami semakin marah dan berkata: Baik, apakah tidak bisa kita selesaikan makan dengan tenang.
Istri terlihat kesal: Baik
Selang lima menit ketika semuanya masih sedang makan, Istri mulai berbicara ketiga kalinya:
Jangan lupa, besok kita punya janji dengan dokter, kita harus pergi sebelum jam 5.
Suami: Bukankah aku minta kamu tenang dan tidak biacara?
Istri (tampak marah dan berkata dengan keras) : Allohu Akbar…ada apa denganmu? Apakah aku haram bicara denganmu? Kenapa kamu seperti ini? Setiap hari setelah kamu pulang kerja lamu tidak mau diajak biacar, ada apa?
Istri meninggalkan meja makan dgn menggerutu dan menuju dapur sambil menangis.
Suami berontak dan meninggalkan makan juga. Ia bicara dengan suara memekak telinga : Kamu ini orang aneh! aku tidak tahu apa permasalahanmu sebenarnya? Aku lelah setelah pulang kerja dan ingin istirahat bentar. Tapi yang aku dapati justru istri yang tidak mau berhenti bicara.
Dari sini suami meninggalkan rumah dan pergi ke salah satu warung kopi untuk mencari ketenangan.
Laki2 yang sedang menghadapi permasalahan akan menumpahkan seluruh pikirannya untuk permasalahan tersebut. Ketika ia pulang ke rumah, sebenarnya pikirannya belum pulang, pikirannya masih sibuk dengan pekerjaannya, sehingga ketika ada orang yang ingin mengajak bicara ia akan merasa terganggu. Penyebabnya adalah pembicaraan tersebut telah memotong rangkaian pikirannya atau menjauhkan dia dari objek yang sedang ia pikirkan. Laki2 akan terus bersikap seperti ini selama permasalahannya sulit dipecahkan, sarafnya akan tetap tegang dan mencari kesibukan dengan pekerjaan yang lain seperti membaca buku, koran, mendengar radio atau pekerjaan yang lain sampai secara bertahap emosinya akan menjadi tenang.
Pada pr kenyataannya tidak seperti itu, perempuan akan berusaha menemukan orang yang dapat dipercaya (suami/perempuan lainnya) untuk diajak bicara dengan panjang lebar untuk menjelaskan permasalahannya. Inilah yang ditempuh pr untuk mendapatkan kepuasan pikiran dan ketenangan perasaan. Tabiat pr yang cenderung ekspansif ini akan merangkul semua permasalahan dalam waktu yang sama, berbeda dengan tabiat laki2 yang fokus pada satu permasalahan. Pada kondisi ini pr akan kehilangan kemampuan untuk meletakkan mana yang lebih utama utk dikerjakan dan mana yang bisa ditunda, ini yang menyebabkan ia merasa sedih dan terbebani, kadang pelariannya adalah menangis. Laki2 yg melihat pr sedang sedih maka respon laki2 adalah kesal dan marah, dan yang terbayang pada dirinya bahwa ketika itu pr sedang berusaha menyalahkan laki2 atas kesedihannya.
4. Dorongan yang saling bergantian antara laki-laki dan perempuan
Laki2 akan merasa bergairah, kuat dan bersemangat apabila merasa perempuan membutuhkannya, dan bila perasaan tersebut semakin bertambah maka gairah dan ketertarikannya kepada perempuan tersebut akan semakin bertambah. Apabila laki2 merasa perempaun tidak membutuhkan dirinya, maka gairahnya semakin mengecil, layu, kemudian hubungan antara keduanya akan mati.
Perempuan akan merasa bergairah, kuat, bersemangat dan tertarik pada laki2, ketika ia merasa laki2 menghormati dan menghargai dirinya. Ketika perasaan perempuan tersebut makin bertambah maka ketertarikannya pada laki2 akan bertambah pula. Apabila perempuan merasa laki2 tidak menghormati dan tidak menghargai, maka gairahnya akan mengecil, berkurang, layu dan akhirnya ikatan keduanya akan mati.
Ketika Laki-laki mencintai perempuan
Ketika laki2 mencintai perempuan, maka ia akan berusaha mengerahkan segala kemampuannya untuk memberikan kebahagiaan kepada perempuan yang telah ia pilih dan ia cintai. Ia akan melakukan hal2 baru yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Pemberian dan perhatian tersebut akan terus berlangsung selama perempuan memberikan tanggapan dan penghargaan kepada laki2.
Laki2 sangat sulit meneruskan ikatan dengan perempuan yang tidak bisa membuat laki2 merasa bahwa perempuan tersebut membutuhkan dirinya. Karena membuat kebahagiaan perempuan yang dicintainya bagi laki2 merupakan hal yang sangat pokok dalam hidupnya. Apabila hubungan cinta keduanya sampai pada tingkatan rendah dan mendekatai kemusnahan, maka satu hal yang bisa menghidupkan kembali yaitu, buatlah laki2 merasa bahwa perempuan membutuhkan dirinya.
Ketika perempuan mencintai Laki-laki
Perempuan akan melihat laki2 sebagai orang yang ia butuhkan dalam kehidupannya. Ia mengharapkan laki2 tersebut bisa memberikan perhatian padanya, menghargai keperempuannya dan keadaannya, dan menghormati dirinya sebagai orang yang ingin selalu bersamanya dan menjadi sahabatnya. Menurut Pr, persahabatan mempunyai arti kebahagiaan dan kesenangan, karena dengan persahabatan ia dapat saling berbagi perasaan kasih sayang dan cinta, dan akhirnya menjadi intim (akrab dan dekat) dengan laki2 tersebut. Ketika Pr merasa bahwa ia adalah orang yang dicintai dan berhak atas laki2 tersebut, maka perasaan ini memberikan banyak kesenangan dan kebahagiaan.
Sikap Saling Menyalahkan
Dengan berjalannya waktu, laki2 akan sampai pada tingkatan dimana ia melihat dirinya telah memberikan banyak sekali kepada perempuan.
Demikian juga perempuan juga akan melihat bahwa dirinya telah memberikan sesuatu yang banyak juga, tetapi suatu ketika perempuan akan merasa bahwa yang diterimanya dari laki2 lebih sedikit daripada haknya, tidak memperoleh yang diinginkan dan selalu kecewa, maka pada waktu itu ia akan melimpahkan kesalahan tersebut pada laki2. Ia marah pada laki2 karena tidak memainkan perannya untuk memberi dan tidak membalas pemberian perempuan dengan pemberian yang seimbang. Disini perempuan akan merasa benar2 terzhalimi.
Namun salah besar bila perempuan melimpahkan kesalahan kepada laki2 saja. Perempuan juga bertanggungjawab atas masalah tersebut.
Berawal dari rasa cinta, dan ingin membantu laki2, perempuan pun menyumbang dalam permasalahan baru tersebut. Meski peran perempuan pasif tapi efektif dan besar sekali sumbangan permasalahannya. Demikian juga laki2 yang tidak melakukan kewajibannya, tidak memberi dan tidak bekerjasama dalam memperbaiki hubungan mereka berdua, maka tidak berhak juga untuk merasa aneh dengan tindakan perempuan yang merasa pasif padanya, sehingga jangan sampai laki2 juga melimpahkan kesalahan pada perempuan.
Pada dasarnya melimpahkan kesalahan pada salah satu pihak, tidak akan membantu dalam memecahkan permasalahan dan tidak mampu meningkatkan hubungan. Seharusnya keduanya saling memahami dengan penuh kasih sayang, kepercayaan, simpati, saling membantu, saling menerima, dan menghormati satu sama lain. Sebagai laki2 harus ingat bahwa perempuan yang ada dihadapannya adalah perempuan yang ia cintai dengan sepenuh hati dan telah ia putuskan untuk selalu bersamanya, ia adalah perempuan yang mencintai dan setuju menikah dengannya. Ia adalah perempuan yang mencintainya dan berhak untuk dibantu dan dijaga. Bukan untuk disalahkan dan tidak dihormati.
Laki2 harus berusaha mendengarkan pengaduan2nya, bagaimanapun cara perempuan mengadu. Walaupun dalam pengaduan terkadang terdapat sikap yang mencela laki2. Pengaduan perempuan ini merupakan bentuk usaha untuk mendapatkan ketenangan. Inilah cara perempuan mencari kepuasan agar tenang pikirannya. Laki2 harus mengetahui bahwa mendengarkan keluhan perempuan akan membuat ia merasa tenang dan merasa diperhatikan laki2. Pada akhirnya akan mengembalikan kepercayaan dirinya, dan hatinya akan terbuka kembali untuk laki2.
Bagi perempuan, ketika terjadi suatu masalah, daripada menyalahkan dan menuduh laki2 dengan sesuatu yang menyakitkan bahkan sampai menunjukkan pada laki2 bahwa laki2 tersebut telah mengabaikan kewajibannya kepada perempuan, sebaiknya perempuan juga ingat bahwa laki2 tersebut adalah suaminya, orang yang ia impikan dan ia cintai. Dimana laki2 tersebut telah memperlihatkan perilaku yang baik pada dirinya sehingga ia merasa cocok untuk selalu bersama dirinya. Maka tugas perempuan harus memaafkan, menyalami, dan menerima laki2 atas semua yang ia lakukan, dan mentolerir kesalahannya. Percayalah bahwa suatu hari pasti akan datang hari dimana ia akan sadar atas kelalaiannya. Kemudian akan memperbaiki sikap dan melaksanakan kewajibannya. Perempuan harus percaya hal tersebut dan berusaha membantu laki2 untuk sampai pada kesadaran itu, mendorongnya untuk melaksanakan kewajibannya. Apabila laki2 telah melakukan hal itu, maka sebaik-baiknya yang harus dilakukan perempuan adalah menampakkan kebahagiaannya. Karena semua yang dilakukan laki2 tersebut adalah untuk diri dan keluarganya. Ingatlah bahwa rahasia agar laki2 memberi adalah “perempuan merasa kagum dengan laki2 dan merasa bahagia atas semua yang dilakukan laki2″.
BELAJAR MENERIMA PEMBERIAN
Hal yang ditakutkan istri adalah bila suami menganggap dirinya banyak menuntut. Kemudian suami bosan/jemu padanya, setelah itu menjadi mengabaikan dirinya serta menolak permintaannya. Perasaan tertolak dan terabaikan adalah perasaan yang menyakitkan bagi seorang perempuan, karena secara tidak disadari ia merasa dirinya tidak berhak menerima pemberian dari laki2. Dan secara tidak disadari juga telah menimbulkan perasaan takut ketika membutuhkan orang lain. Sehingga ia akan menghindari meminta bantuan dan pertolongan serta berusaha memahami perasaannya sendiri tanpa perlu meminta pertolongan pada laki2.
Ketika laki2 melihat perempuan menghindari meminta tolong kepadanya maka ia akan merasa gelisah dan marah dengan tindakan perempuan tersebut. Penyebabnya adalah adanya keyakinan yang salah pada perempuan bahwa perempuan tidak boleh meminta pertolongan kepada dirinya, karena tidak percaya kepada kemampuannya. Padahal yang mendorong laki2 untuk memberi dan terus memberi adalah perasaan dirinya bahwa orang lain membutuhkan dia.
Pada diri perempuan, ada anggapan bahwa laki2 marah padanya karena banyaknya permintaan padanya. Pemahaman seperti ini adalah keliru. Padahal sebenarnya ketika perempuan berhenti meminta pertolongan pada laki2 sama artinya dengan membuat laki2 menjadi kesal. Dalam pandangan laki2, dengan meminta pertolongan berarti perempuan percaya padanya dan mengharap dia mengerahkan upayanya untuk mewujudkan permintaan tersebut. Perasaan inilah yang membuat laki2 kuat dan mendorongnya lebih banyak memberi.
BELAJAR MEMBERI
Ketakutan yang paling dalam pada diri laki2 adalah adanya perasaan tidak kufu’ (seimbang). Untuk mengalahkan perasaan itu, ia harus konsentrasi pada pengembangan diri dan berusaha memperjuangkan hidup dan dirinya hingga sampai pada tingkatan yang seimbang. Sebagaimana perempuan takut untuk “menerima pemberian dan ditolak permintaannya”, maka laki2 takut untuk “memberi dan menawarkan”. Laki2 yang memberi pada perempuan berarti ia menanggung resiko gagal, dikritik atau tidak diterima oleh perempuan. Perempuan yang yang mengkritik atau tidak menerima sesuatu yang diberikan oleh laki2 akan melukai perasaan laki2, dan membuat ia menyembunyikan atau membatalkan keinginannya.
Agar laki2 mau belajar bagaimana memberi, maka ia harus mengetahui bahwa melakukan kesalahan dan kegagalan tidaklah apa-apa.
Kegagalan adalah syarat meraih keberhasilan, karena itu laki2 harus terdorong dan membiasakan diri untuk memberi dan menjauhi perasaan ketakutan tersebut. Sebab ketakutan itu hanya akan menghilangkan kesempatan berharga untuk bisa mendatangkan kebahagiaan pada diri dan orang yang dicintainya.
Tabiat perempuan sangat perasa. Ia merasa ditolak oleh laki2 ketika melihat laki2 tidak perhatian padanya, pada permintaanya dan kebutuhannya. Laki2 juga sangat perasa, ia akan merasa gagal ketika melihat perempuan banyak mengeluh padanya. Ketika perempuan mulai mengeluh, maka laki2 tidak siap memasang telinga untuk mendengarkan dengan baik, karena laki2 tidak senang mendengar keluhan tapi laki2 senang menjadi pahlawan dihadapan perempuan dan mendengarkan pujian darinya. Keluhan berarti kegagalan dan dalam waktu yang sama hal itu menguatkan ketakutan laki2 pada alam bawah sadarnya. Ketakutan itu juga akan menguatkan keyakinan ketidakseimbangan
dirinya. Perempuan tidak mengetahui bahwa laki2 juga membutuhkan cinta. Cinta akan mengangkat nilai dan arti laki2 dan membuat ia seimbang serta bisa mencukupi kebutuhan orang lain. Hal inilah yang mampu mendorong laki2 lebih mengerahkan upaya untuk selalu banyak memberi.
5. PERBEDAAN CARA BICARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
Ketika laki2 mengatakan sesuatu kepada perempuan maka jarang sekali perempuan memahami sebagaimana yang dikehendaki laki2, demikian juga sebaliknya. Contohnya : “Aku merasa sepertinya kamu sama sekali tidak mendengarkan yang aku katakan” sebenarnya perempuan tidak bermaksud mengatakan bahwa laki2 sama sekali tidak mendengarkan dia, ini hanyalah ungkapan dari puncak kekesalan
perempuan pada waktu itu.
Ketika perempuan berbicara, biasanya menggunakan kata tertentu dalam bicaranya, seperti menggunakan bentuk melebih-lebihkan, menyangatkan, kiasan atau bisa metafora. Inilah yang tidak bisa dipahami laki2. Karena itu, respon laki2 pada pernyataan tersebut akan sebanding atau bisa lebih besar dari maksud sebenarnya yang diucapkan oleh perempuan. Untuk menjelaskan perbedaan pemahaman ini, berikut contohnya:
Yang dikatakan perempuan:
1. Kita selalu dirumah, tidak pernah keluar sama sekali.
2. Aku lelah sama sekali, tidak bisa melakukan apa-apa.
3. Aku ingin melupakan segala-galanya.
4. Kamu tidak mencintaiku lagi.
5. Aku ingin merasakan kasih sayang dan cintamu.
Pemahaman dan jawaban laki2:
1. Ini bohong, minggu lalu kita sudah keluar.
2. Ini tidak masuk akal, kamu tidak diam terus.
3. Bila kamu tidak senang dengan pekerjaanmu ini, kamu harus mengajukan pengunduran diri.
4. Tentu saja aku mencintaimu, ini yang membuatku berada dihadapanmu.
5. Apakah maksudmu kasih sayang dan cintaku telah mati!?
Dari contoh terlihat, laki2 terbiasa mengungkapkan permasalahan dengan memilih kata2 yang sesuai dan dapat menjelaskan makna sesungguhnya. Karena itulah ketika ia mendengar perkataan perempuan yang menggunakan banyak kata dilebih-lebihkan, kiasan dan metafora, laki2 akan memahami perkataan tersebut sesuai teksnya, menganggap perkataan itu memiliki satu makna, tidak memiliki arti yang lain, dan setiap kata menurutnya juga memiliki makna yang sama. Disinilah awal terjadi permasalahan yang tidak mendasar tersebut.
Perkataan laki2 juga sulit dipahami oleh perempuan, biasanya makna yang dipahami perempuan berbeda dengan maksud sebenarnya. Dan sangat dimungkinkan tidak sesuai dengan keinginan perempuan. Hal ini juga akan menimbulkan permasalahan.
PERBEDAAN MENGAMBIL KEPUTUSAN
Realitas ilmiah mengatakan bahwa cara berpikir laki2 adalah dengan cara konsentratif atau memusat, sedangkan cara berpikir perempuan adalah dengan ekspansif atau menjelajah. Karena perempuan memiliki ciri menjelajah pada semua cakrawala, kadang terlihat ia bermusyawarah dengan orang lain dan meminta pendapatnya. Setelah bermusyawarah ia akan mengambil keputusan.
Laki2 dengan tabiat konsentrasinya akan bertindak berbeda sama sekali dengan perempuan. Ia akan berpikir sendiri setelah itu baru mengambil keputusan. Terkadang setelah itu ia akan menyampaikan pemikirannya kepada seseorang untuk dimusyawarahkan. Namun setelah musyawarah terkadang laki2 tetap pada pandangannya sendiri dan kadang ia bisa merubah sikapnya/keputusannya semula.
Tanpa memahami dan mengetahui perbedaan dalam mengambil keputusan ini bukan hal yang yang mustahil jika permasalahan muncul. Sungguh, bila laki2 mengambil keputusan lalu mengutarakannya kepada perempuan untuk meminta pendapatnya, perempuan akan merasa kesal dan marah, karena mengira laki2 tidak memperhatikan perasaan dan pendapatnya. Sebab menurut perempuan, keputusan laki2 sudah
final.
Sebenarnya laki2 tidak bermaksud berbuat seperti yang dipahami oleh perempuan. Buktinya ia mengupayakan musyawarah dengannya. Seandainya perempuan memiliki pendapat yang bisa merubah, maka laki2 siap untuk mendengarkan dan mendiskusikannya. Laki2 siap walaupun sampai merubah keputusannya apabila arah pandangan perempuan lebih benar. Laki2 akan menghargai jawaban perempuan, dan jawaban tersebut akan menjadi pertimbangan yang besar bagi laki2.
Ketika perempuan tetap saja diam dan tidak merespon laki2, maka laki2 akan berkeyakinan bahwa diamnya berarti setuju. Laki2 tidak tahu bahwa diamnya perempuan adalah upaya untuk mengembalikan kesadarannya yang telah hilang karena adanya serangan yang ia dengar, yaitu serangan egoisme laki2 yang dalam mengambil keputusan tidak mengikutsertakan perempuan.
Laki2 akan marah besar dengan cara perempuan yang “demokratis” dalam usaha mengambil keputusan. Karena proses ini menurut laki2 sangat lama dan menjemukan. Perempuan sebelum mengambil keputusan akan berusaha mendalami dan mencari pengetahuan tambahan. Inilah yang membuat laki2 menduga perempuan itu kadang bodoh, atau pura2 tidak tahu. Padahal sebenarnya perempuan, karena tabiatnya yang khas, ingin menyelami dan jauh masuk kedalam pokok permasalahan untuk mengetahui segala kemungkinan sebelum mengambil keputusan.
Contoh:
Suami: “Pameran buku akan dibuka hari kamis mendatang, aku yakin ini kesempatan tepat untuk mengunjunginya dan membaca-baca buku2
terbaru”.
Istri: “Aku tidak tahu itu, aku tidak memikirkan masalah tersebut”.
“Aku tidak tahu”, itulah ungkapan yang diucapkan istri untuk mengetahui lebih dalam permasalahan tersebut. Dia juga berusaha mengaitkan kunjungan tersebut dengan masalah kehidupan sehari-hari lainnya. Setelah itu baru mengeluarkan pendapat dan jawaban. Adapun yang dipahami laki2 dari perkataan “aku tidak tahu” adalah penolakan perempuan pada usulnya. Laki2 menyangka istrinya menolak pendapatnya dan ia akan berkata dalam hatinya: “Aku tidak senang perkataan itu. Ini proses yang bertele-tele. Bila ia tidak senang pergi mengapa tidak
mengatakan dengan jelas? Ia benar2 perempuan yang ingin berkuasa”.
Hal ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, alangkah baiknya bila perempuan mengatakan:
“Aku yakin ini pemikiran baik, namun aku butuh waktu untuk memikirkan permasalahan tersebut. Aku sungguh2 menghargaimu, aku harap kamu bersabar”, atau
“Kamu telah melontarkan pemikiran yang bagus, biarkan kami bicara dengan anak2 dan kita bisa mengetahui apakah mereka mau bepergian.”
atau,
“Sejak dulu kita tidak pernah pergi ke tempat yang seperti ini. Ini usul yang istimewa. Apakah kamu bisa memberi waktu kepadaku untuk berfikir sebelum kamu memutuskan hal itu?”
Jawaban2 tersebut akan menolong laki2 bersikap sabar dan membantunya terbebas dari permasalahan.
Posted in: Blogging
Tags: 3. Pasca Nikah, a. Suami, b. Istri, e. Rumah Tangga
Januari 11th, 2010 / No Comments » / by leli
Sumber : myquran.com
Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an surat A Rum ayat 21 :
Artinya : ”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Nya Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”
Setiap suami sudah pasti menginginkan memiliki istri yang shalehah. Yang mampu menjadi penetram hatinya. Lalu bagaimana caranya agar bisa mendapatkan istri yang shaliha? Dimulai dengan langkah awal mulai berbenah dan memperbaiki diri sendiri lalu dilanjutkan dengan mencari calon istri yang shaleha Adapun Rasulullah telah memberi petunjuk dalam memilih seorang istri.
Rasulullah bersabda: ”Wanita dinikahi karena empat perkara, yaitu karena harta bendanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang memiliki agama ( kuat agamanya), niscaya kamu beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim melalui Abu Hurairah ra )
Selanjutnya apa yang harus dilakukan seorang suami agar istri yang menjadi pilihannya tersebut istiqomah dalam keshalihannya?
Kewajiban Suami terhadap Istri
Memberi nafkah lahir dan bathin adalah merupakan suatu kewajiban bagi seorang suami. Seorang suami wajib memberi makan dan pakaian, disamping mendidik dengan sebaik-baiknnya. Saat mendidik janganlah dilakukan dengan cara yang kasar seperti memukul terutama bagian mukanya. Bila memiliki kekurangan janganlah sekali-kali menceritakan kejelekannya itu kepada orang lain karena dia merupakan bagian dari hidup kita.
Rasulullah saw berpesan: ”Kewajiban suami terhadap istrinya ialah memberi makan apabila makan, dan memberi pakaian apabila berpakaian. Jangan memukul mukanya, jangan menjelek-jelekkannya, serta jangan mengucilkannya kecuali dalam rumah.” ( HR. Hakim )
Menafkahi Keluarga
Rasulullah bersabda : ”Harta yang dinafkahkan seorang lelaki untuk keperluan rumah tangganya, istrinya, anak-anaknya dan pembantunya, maka hal tersebut merupakan sedekah baginya.” ( HR Thabrani )
Sejalan dengan hadits di atas dijelaskan bahwa menafkahkan harta untuk keluarga, yaitu anak dan istri, termasuk pembantu karena perbuatan adalah termasuk sedekah. Artinya merupakan pengeluaran yang tidak sia-sia, melainkan akan memperoleh balasan berupa pahala dari Allah SWT.
Mendidik Istri
Untuk memperoleh istri yang baik dan shaleha hendaklah kita mendidik dengan sebaik-baiknya.
Rasulullah saw berpesan: ”Didiklah wanita-wanita dengan melucutinya dari pakaian dan perhiasan yang indah-indah, kerena sesunggunya sebagian wanita itu bila memiliki pakaian yang banyak dan perhiasann yang bagus-bagus mereka suka keluar.” (HR Anas)
Rasulullah saw mengingatkan kepada kita : ”Berwasiat kebaikanlah kalian dalam menghadapi kaum wanita, karena sesungguhnya wanita itu berasal dari tulang rusuk yang bengkok. Sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas; apabila engkau luruskan niscaya dia patah; dan apabila engkau biarkan niscaya dia tetap bengkok. Karena itu berwasiat kebaikanlah di dalam menghadapi wanita.” ( Riwayat Syaikhan melalui Abu Hurairah )
Menghormati Istri
Meskipun suami diberikan kewenangan untuk mendidik istri, hal ini tidak berarti suami dapat berlaku semena-mena. Hendaknya cara mendidik dan mengajar istri tetap berlaku hormat kepada mereka. Karena Rasulullah saw pun adalah seorang suami yang sangat menghormati istri-istrinya. Orang yang meenghormati wanita menunjukkan bahwa dia seorang terhormat, sedangkan orang yang menghinakan wanita, maka dia adalah termasuk orang yang hina.
Rasulullah saw bersabda Nabi Saw bersabda: “Tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia. Tidak merendahkan wanita kecuali laki-laki yang rendah juga.” (HR. Ali)
Sikap Rasulullah SAW Terhadap Istrinya
Nabi saw adalah orang yang paling lemah lembut terhadap istri-istrinya, paling sayang dan paling murah senyum. Dalam hadits lain telah disebutkan bahwa tiada yang memuliakan kaum wanita kecuali hanya lelaki yang mulia, dan tiada yang merendahkan kaum wanita kecuali hanya lelaki tercela.
Nabi Saw bersabda: “Ada dua dosa yg akan disegerakan Allah siksanya di dunia ini juga, yaitu Al-Baghyu dan durhaka kepada orang tua.” (HR.Turmudzi,Bukhari,Thabrani)
Al-Baghyu adalah berbuat sewenang-wenang, berbuat dzalim dan menganiaya orang lain. Dan Al-Baghyu yang paling dimurkai Allah adalah berbuat dzalim terhadap istri sendiri. Termasuk Al-Baghyu ialah menelantarkan istri, menyakiti hatinya, merampas kehangatan cintanya, merendahkan kehormatannya, mengabaikannya dalam mengambil keputusan dan mencabut haknya untuk memperoleh kebahagiaan hidup bersama anda (suami). Dikutip dari novel Ayat-ayat cinta dan buku Mencapai Pernikahan Barakah, M.Fauzil Adhim.
Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa, ”Apabila Rasulullah SAW bersama istri-istrinya, beliau adalah orang yang paling berlemah lembut, paling mulia, dan banyak tertawa dan tersenyum.” ( HR.. Aisyah )
Bahkan dalam hadits lain disebutkan bahwa seorang wanita dilarang bepergian tanpa muhrimnya untuk perjalanan yang memakan waktu lebih dari dua hari. Hal ini dimaksudkan agar dia bisa menjaga kehormatan dirinya dan menghindarkan diri dari gangguan-gangguan yang tidak diinginkan seperti perampok, penjahat ataupun pemerkosaan.
Rasulullah saw melarang: ”Seorang wanita tidak boleh melakukan perjalanan sejauh perjalanan dua hari tanpa ditemani oleh suami atau muhrimnya.” ( riwayat Bukhari )
Istri yang paling berkah
Kesenangan yang paling baik ialah memiliki istri yang shaleha. Istri yang shaleha akan berbakti kepada suaminya, ia menerima dengan senang terhadap apa yyang diberikan suaminya berupa rejeki, walaupun sedikit. Ia tidak banyak menuntut dan taat pada suami. Apabila suaminya melihatnya, maka ia membuatnya senang dan bahagia. Istri yang memberikan banyak berkah adalah istri yang mudah nafkahnya. Ia tidak banyak menuntut hal-hal yang dapat menyusahkan suaminya.
Rasulullah saw bersabda : ” Wanita yang paling besar berkahnya ialah yang paling ringan nafkahnya.” ( HR. Ahmad )
Kedudukan Istri Shaleha
Kecenderungan manusia adalah mempunyai sifat serakah. Manusia tercipta dengan sifat yang tidak pernah merasa puas. Manusia cenderung ingin memiliki kekayaan yang sebanyak-banyaknya, bahkan kalau bisa seisi dunia ini dikuasainya.
Dunia beserta isinya inilah yang diibaratkan perhiasan yang sangat menarik yaitu sesesuatu barang yang diminati untuk dimiliki dan dinikmati banyak orang. Dan seeorang laki-laki juga menyukai perhiasan yang indah. Namun semua keindahan dunia ini tiada taranya dibanding dengan istri yang shaleha. Mengenai kedudukan wanita shaleha ini diibaratkan sebagai berikut : ”Dunia semuanya merupakan perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita (istri) yang shaleha.”
Istri yang paling baik
Sebaik-baik istri dalam pandangan Islam adalah istri yang dapat memelihara kehormatan dirinya dan mentaati suaminya.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa, ”Sebaik-baiknya wanita ialah yang memelihara kehormatan lagi penurut.” ( HR. Anas ra)
Istri yang baik dalam membelanjakan harta suami
Seorang istri yang membelanjakan harta milik suami dengan baik, tidak boros, tetapi tidak kikir. Hendaknya berlaku hemat dan hanya mengeluarkan untuk hal-hal yang bermanfaat, maka dia akan memperoleh pahala di sisi Allah SWT. Pahala serupa akan diperoleh suami yang telah berupaya mencari nafkah memenuhi kebutuhan keluarganya.
“Apabila seorang istri membelanjakan sebagian dari harta suamimu tanpa menimbulkan kerusakan, ia mmperoleh pahala dari belanjanya itu, dan bagi suaminya oun pahala karena dia telah mengupayakannya dan pahala bagi bendaharanya, pahala sebagian diantara mereka tidaklah mengurang pahala sebagian yang lain sedikitpun.” ( HR. Siti Aisyah ra)
Istri yang dijamin masuk surga
Seorang istri akan masuk surga bila taat kepada Allah dan suaminya. Taat kepada Allah diantaranya ialah mengerjakan shalat wajib yang lima waktu dan mengerjakan puasa di bulan Ramadhan seerta memelihara kehormatan dirinya.
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa : ”Apabila seorang istri mengerjakan shalat lima waktu, mengerjakan shaum sebulan di bulan Ramadhan dan memelihara kehormatan dirinya serta mentaati suaminya, niscaya ia masuk surga.” ( HR. Anas )
Demikianlah beberapa petunjuk dan pedoman yang telah diajarkan Rasulullah saw kepada kita untuk dijadikan acuan. Memiliki istri yang shaleha sangatlah tergantung kepada suaminya, sejauh mana suami berupaya mempersiapkan hal tersebut. Hal ini harus dimulai saat memilih calon istri. Selanjutnya tergantung suami untuk mendidiknya sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.
Kaca Yang Berdebu
by. Maidany
Ia ibarat kaca yang berdebu
Jangan terlalu keras membersihkannya
Nanti ia mudah retak dan pecah
Ia ibarat kaca yang berdebu
Jangan terlalu lembut membersihkannya
Nanti ia mudah keruh dan ternoda
Ia bagai permata keindahan
Sentuhlah hatinya dengan kelembutan
Ia sehalus sutera di awan
Jagalah hatinya dengan kesabaran
Lemah-lembutlah kepadanya
Namun jangan terlalu memanjakannya
Tegurlah bila ia tersalah
Namun janganlah lukai hatinya
Bersabarlah bila menghadapinya
Terimalah ia dengan keikhlasan
Karena ia kaca yang berdebu
Semoga kau temukan dirinya
Bercahayakan iman
Posted in: Blogging
Tags: 1. Pra-Nikah, b. Istri, d. Memilih Pasangan & Ta'aruf, istri shalihah, mendidik istri
Januari 11th, 2010 / No Comments » / by leli
Ide mengembalikan ummat kepada Alqur’an sudah lama dicanangkan ulama-ulama terdahulu hingga sekarang di Indonesia. Sehingga budaya menghafal qur’an diprediksikan akan menjadi tren baru dalam masyarakat Indonesia secara lebih luas.
Dalam sebuah mabit di masjid Habiburrahman Bandung, seorang ustadz jebolan pakistan menceritakan mengenai sejarah perjuangan Sultan Nuruddin Zanki, keturunan Turki, dalam mengembalikan kejayaan Islam melalui panglimanya yang bernama Salahuddin Al-Ayyubi. Saat itu, ketika Dinasti Abassiyah sudah mulai ompong, Mesir dikuasai Bani Fathimiyah yang menganut Syiah Ismailiyah. Kondisi ketika itu, ummat islam ini begitu sulitnya untuk diajak berjihad dalam artian mengangkat senjata guna mengembalikan kejayaan Islam dalam satu komando khilafah ‘ala minhajin nubuwah. Karena pada saat itu, umat sibuk dengan urusannya masing-masing. Hampir mirip keadaannya dengan keadaan kita sekarang. Umat disibukkan dengan hal-hal yang membuat mereka banyak jauh dari pemahaman islam yang paripurna akibat arus ghozul fikri yang melanda demikian derasnya.
Menurut Ustadz tersebut, jihad dalam arti ketika tidak ada suatu lembaga keummatan yang dapat mengomando semua umat (khilafah-ed), maka makna jihad itu kembali pada makna asli dari jihad itu sendiri yaitu jihad bil qur’an. Adapun bila telah ada lembaga keummatan tersebut, makna jihad itu menjadi jihad bil qital (perang dalam arti fisik), meskipun jihad bil qur’an tetap konsisten dilaksanakan.
Inilah yang menjadi strategi dari sultan Nuruddin Zanki, yaitu berupaya melakukan jihad dengan makna jihad asalnya, yaitu jihad bil qur’an. Beliau mulai mendirikan berbagai madrasah-madrasah tahfidz Alqur’an. Beliau menggaji para ulama untuk membangunkan kembali ummat yang tertidur ketika itu dengan Alqur’an. Mulailah banyak terlahir hafidz-hafidz baru yang ‘menjaga’ alqur’an dengan sebenarnya. Dan mulailah tumbuh kesadaran dalam diri ummat ini hingga tergeraknya perjuangan yang gemilang, dan tumbuhnya generasi-generasi seperti Salahudin Al Ayyubi ini.
Sepertinya, inilah yang menjadi inspirasi besar kaum muslimin di Palestina. Tentu kita semua tahu bahwa di awal agresi israel tehadap palestina, berapa ribu ketika itu kaum muslimin di palestina mewisuda hafidz-hafidzoh baru? Yang sampai sekarang, saya dengar bahwa tiap bulannya, bertampah dua ratusan lebih hafidz-hafidzoh qur’an baru di Gaza. Dikala mereka berada di barak-barak, yang senantiasa menjadi incaran rudal2 israel, mereka begitu getolnya menghafal dan mendidik putra-putri mereka menghafal qur’an. Karena mereka begitu yakinnya akan pertolongan Allah kepada para mujahid yang selain berjihad dengan jiwa raganya, mereka juga berjihad dengan Alqur’an.
Dalam sebuah kesempatan, Ustadzah Yoyoh Yusroh pernah bercerita mengenai pengalamannya ke Palestina, beliau bertemu dengan seorang ibu Palestina. Beliau merasa malu ketika ditanyakan mengenai jumlah anaknya yang hafidz qur’an dan hafalan qur’an yang dimilikinya. Karena rata-rata para ibu Palestina memiliki anak belasan orang yang hampir semuanya hafidz qur’an.
Banyak inspirasi-inspirasi yang jauh maupun dekat di mata kita. Dalam sebuah buku baru karya Izzatul jannah, diceritakan mengenai dua orang sosok suami istri yang hanya memiliki beberapa juz hafalan qur’an, namun dengan visi yang kuat sejak awal pernikahannya bahwa Alqur’an ini adalah sebagai pedoman hidup yang paripurna, mereka berusaha keras mengantarkan para mujahid dan mujahidahnya tercinta guna menjadi penghafal qur’an. Ustadz tamim dalam buku itu menceritakan mengenai apa yang mungkin bisa kita sebut sebagai ‘quantum’ dari hak-hak Alquran yang harus ditunaikan bagi setiap mukmin, dan itu mereka terapkan kepada putra dan putrinya dengan mendidik mereka menjadi ‘penjaga-penjaga’ Alqur’an dan memberikan sahabat terbaik bagi mereka yaitu Alqur’an. Tentu kita ingat bahwa suatu saat di akhirat nanti, akan datang seseorang yang mukanya jernih menghampiri seseorang yang ketika ditanya, orang itu adalah surat albaqoroh yang dahulu sering dibaca dan menjadi sahabatnya di dunia, kini bertemu di akhirat. Tentu pula kita tahu bahwa kelak alqur’an itu akan menjadi syafaat bagi orang-orang yang getol berinteraksi dengannya. Tentu pula kita tahu mengenai balasan Allah yang luar biasa kepada orang tua yang mendidik putra-putrinya hingga mengantarkan mereka menjadi sahabat Alqur’an, penjaga Alqur’an dan lebih lagi, Alqur’an yang berjalan..
Banyak contoh lain yang dapat kita temukan mengenai keluarga-keluarga qur’an yang mulai tumbuh di banyak tempat di seantero penjuru negeri ini. Bahkan tidak sedikit yang latar belakang orang tuanya adalah bukan latar belakang yang agamis, pesantren dan sebagainya, namun mereka berhasil mengantarkan putra-putrinya menjadi ahlul qur’an.
Tinggal sekarang bagaimana sikap kita dalam menyikapi perkara ini, sebab ini bukanlah hanya wacana-wacana belaka yang membuat kita kagum dan ‘ngeh’ saja, namun yang paling penting adalah ‘gerakan’ nyata atau ‘tindakan’ nyata untuk mulai merencanakan, mengatur strategi dan bergerak menuju kebangkita Islam. Semoga jika bukan kita, setidaknya para keturunan kita yang kelak menjadi mujahid dan mujahidah yang menjadi salah satu dari sekian banyak hamba-hamba Alloh yang memperjuangkan dan menegakkan qur’an di muka bumi sebagai salah satu hak Alqur’an yang masih menjadi PR kita bersama sebagai pribadi muslim dan keluarga muslim.
Wallahu’alam..
Sumber : eko@ myquran.com forum bina keluarga
Posted in: Blogging
Tags: 3. Pasca Nikah, c. Anak-anak
Desember 19th, 2009 / No Comments » / by mus
Sabda Rasul SAW: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi.” (HR. Bukhari).
Anak adalah karunia Allah yang tidak dapat dinilai dengan apapun. Ia menjadi tempat curahan kasih sayang orang tua. Namun sejalan dengan bertambahnya usia sang anak, muncul “agenda persoalan” baru yang tiada kunjung habisnya. Ketika beranjak dewasa anak dapat menampakkan wajah manis dan santun, penuh berbakti kepada orang tua, berprestasi di sekolah, bergaul dengan baik dengan lingkungan masyarakatnya, tapi di lain pihak dapat pula sebaliknya. Perilakunya semakin tidak terkendali, bentuk kenakalan berubah menjadi kejahatan, dan orangtua pun selalu cemas memikirkanya.
Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan, dalam bukunya “Tarbiyatul Aulad” menegaskan, hanya ada satu cara agar anak menjadi permata hati dambaan setiap orangtua, yaitu melalui pendidikan yang bersumber dari nilai-nilai Islam.
Islam telah memberikan dasar-dasar konsep pendidikan dan pembinaan anak, bahkan sejak masih dalam kandungan. Jika anak sejak dini telah mendapatkan pendidikan Islam, Insya allah ia akan tumbuh menjadi insan yang mencintai Allah dan Rasul-nya serta berbakti kepada orangtuanya.
Upaya dalam mendidik anak dalam naungan Islam sering mengalami kendala. Perlu disadari disini, betapa pun beratnya kendala ini, hendaknya orangtua bersabar dan menjadikan kendala-kendala tersebut sebagai tantangan dan ujian.
Dalam mendidik anak setidaknya ada dua macam tantangan, yang satu bersifat internal dan yang satu lagi bersifat eksternal. Kedua tantangan ini sangat mempengaruhi perkembangan anak.
Sumber tantangan internal yang utama adalah orangtua itu sendiri. Ketidakcakapan orangtua dalam mendidik anak atau ketidak harmonisan rumah tangga. Sunatullah telah menggariskan, bahwa pengembangan kepribadian anak haruslah berimbang antara fikriyah (pikiran), ruhiyah (ruh), dan jasadiyahnya (jasad).
Tantangan eksternal pun juga sangat berpengaruh dan lebih luas lagi cakupannya. Tantangan pertama bersumber dari lingkungan rumah. Informasi yang yang didapat melalui interaksi dengan teman bermain dan kawan sebayanya sedikit banyak akan terekam. Lingkungan yang tidak islami dapat melunturkan nilai-nilai islami yang telah ditanamkan di rumah.
Yang berikutnya adalah lingkungan sekolah. Bagaimanapun juga guru-guru sekolah tidak mampu mengawasi anak didiknya setiap saat. Interaksi anak dengan teman-teman sekolahnya apabila tidak dipantau dari rumah bisa berdampak negatif. Sehingga memilihkan sekolah yang tepat untuk anak sangatlah penting demi terjaganya akhlak sang anak. Anak-anak Muslim yang disekolahkan di tempat yang tidak islami akan mudah tercemar oleh pola fikir dan akhlak yang tidak islami sesuai dengan pola pendidikannya, apalagi mereka yang disekolahkan di sekolah nasrani sedikit demi sedikit akhlak dan aqidah anak-anak Muslim akan terkikis dan goyah. Sehingga terbentuklah pribadi-pribadi yang tidak menganal islam secara utuh.
Disamping itu peranan media massa sangat pula berpengaruh. Informasi yang disebarluaskan media massa baik cetak maupun elektronik memiliki daya tarik yang sangat kuat. Jika orang tua tidak mengarahkan dan mengawasi dengan baik, maka si anak akan menyerap semua informasi yang ia dapat, tidak hanya yang baik bahkan yang merusak akhlak.
Meskipun banyak faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan seorang anak, orang tua tetap memegang peranan yang amat dominan, sebagaiman sabda Rasul SAW:
“Setiap anak dilahirkan dalm keadaan fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi.” (HR. Bukhari).
Dalam mendidik anak orang tua hendaknya berperan sesuai dengan fungsinya. Masing-masing saling mendukung dan membantu. Bila salah satu fungsi rusak, anak akan kehilangan identitas. Pembagian tugas dalam Islam sudah jelas, peran ayah tidak diabaikan, tapi peran ibu menjadi hal sangat penting dan menentukan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para orangtua Muslim dalam mendidik anak:
- Orang tua perlu memahami apa yang dimaksud dengan pendidikan anak dan tujuannya.
- Banyak menggali informasi tentang pendidikan anak.
- Memahami kiat mendidik anak secara praktis. Dengan demikian setiap gejala dalam tahap-tahap pertumbuhan anak dapat ditanggapi dengan cepat.
- Sebelum mentransfer ilai, kedua orang tua harus melaksanakan lebih dulu dalam kehidupan sehari-hari. Karena di usia kecil, anak-anak cerdas cenderung meniru dan merekam segala perbuatan orang terdekat.
- Bersegera mengajarkan dan memotivasi anak untuk menghafal Al-Quran. Kegunaannya di samping sejak dini mengenalkan Yang Maha Kuasa pada anak, juga untuk mendasari jiwa dan akalnya sebelum mengenal pengetahuan yang lain.
- Menjaga lingkungan si anak, harus menciptakan lingkungan yang sesuai dengan ajaran yang diberikan pada anak.
Memang usaha mendidik anak tidaklah semudah membalik tangan. Perlu kesabaran dan kreativitas yang tinggi dari pihak orang tua. Simaklah perkataan Sayyid Qutb, yang mempunyai ayah sebagai panutannya:
“Semasa kecilku, ayah tanamkan ketaqwaan kepada Allah dan rasa takut akan hari akhirat. Engkau tak pernah memarahiku, namun kehidupan sehari-harimu telah menjadi teladanku, bagaimana prilaku orang yang ingat akan hari akhir.
Posted in: Blogging
Tags: 3. Pasca Nikah, c. Anak-anak, mendidik anak, pendidikan anak
Desember 17th, 2009 / No Comments » / by mus
Narsis abis.. padahal wajah masih bopeng
bekas cacar air
jadi ingat begitu hendak cek-in
si mbak spontan nyeletuk
“Kayak anak kecil saja… cacar..”
Sadarlah daku kalau yang dimaksud si mbak …
Posted in: Blogging
Tags: me, People
Desember 17th, 2009 / No Comments » / by mus
Narsis abis.. padahal wajah masih bopeng
bekas cacar air
jadi ingat begitu hendak cek-in
si mbak spontan nyeletuk
“Kayak anak kecil saja… cacar..”
Sadarlah daku kalau yang dimaksud si mbak …
Posted in: Blogging
Tags: me, narsis, People
Desember 17th, 2009 / No Comments » / by mus
Soto Banjar ayam kampung.
Wah.. gak usah nanya.. pokokke uenak…
apalagi dimakan setelah perut lapar
dipontang-panting melewati jalanan Balikpapan - Samarinda
yang naik-turun dan berkelok-kelok.
Hmmm… hilang deh mual perut..
Posted in: Blogging
Tags: Kuliner, makanan, soto, soto banjar
Desember 17th, 2009 / No Comments » / by mus
Landasan pacu Bandara Sepinggan Balikpapan (3 Desember 2009)
Posted in: Blogging
Tags: balikpapan, bandara, Building, Panorama, sepinggan
Desember 17th, 2009 / No Comments » / by mus
Subhanallah… indahnya…
Posted in: Blogging
Tags: family garden, mekarsari, Panorama
Desember 17th, 2009 / No Comments » / by mus
Duh indahnya…
segar euy…
Posted in: Blogging
Tags: family garden, mekarsari, Panorama